Postingan

Jogja Istimewa -selesai

Setelah berkunjung dari UGM dan berfoto bersama, rombongan JS dan JJB menuju ke dalam bus masing-masing. Selanjutnya, rombongan JJB melanjutkan untuk berkunjung ke AKMIL, sedangkan rombongan JS melanjutkan perjalanan menuju Candi Prambanan. Perjalanannya memakan waktu sekitar satu jam an. Sesampai di sana, aku mengantri tiket masuk. Setelah mendapat tiket, aku mengantri untuk masuk. Pada saat tiket masukku discan, tiba-tiba mesinnya eror.  Aku sekilas melirik belakangku. Wahhhh antri panjang ternyata. Malu sekaliiii. Temanku yang sudah masuk terlebih dahulu menertawakanku karena aku terlihat gupuh sekali. Setelah berhasil masuk, aku segera mengabadikan momen-momen di sana. Aku mengambil beberapa foto. Aku bertemu dengan dua orang turis. Aku berniat untuk mengajak mereka foto bersama denganku.  Belum sempat aku bertanya, mereka justru berlalu dari hadapanku. Yasssh. Sedih rasanya. Sakit ya pasti. Tapi ya sudahlah. Kemudian aku segera menjajaki objek wisata yang...

Jogja Istimewa-part 1

Di tahun 2018 ini, tepatnya tanggal 04 Maret 2018 ini kelas 11 melaksanakan kegiatan SK2AL. Kegiatannya berupa studi kampus di Indonesia. Terdapat dua pilihan, yaitu JS (Jogja-Solo) dan JJB (Jogja-Jakarta-Bandung). Masa SK2AL JS berlangsung selama 3 hari. Sedangkan masa SK2AL JJB berlangsung selama 5 hari. Kebetulan, aku memilih JS. Aku berangkat dari sekolah pukul 20.00 WIB dengan menumpangi bus pariwisata. Aku duduk berdua dengan temanku, Okta. Sedangkan dua temanku Sasa dan Dinka duduk bertiga dengan temanku lainnya di sebelah kanan. Kami bermalam sehari di dalam bus. Dalam satu bus, berasal dari beberapa kelas. Sepanjang jalan kami karaokean di dalam bus. Menjelang larut malam, beberapa dari kami sudah lelap tertidur, kemudian disusul yang lainnya.  Keesokan harinya, sekitar pukul 04.00 pagi kami tiba di Pantai Parangtritis. Aku dan tiga temanku mencari kamar mandi sekitar area pantai. Ada hal memalukan terjadi padaku. Aku hampir terjatuh di depan pintu kamar mandi karen...

Seutas Rasa yang Baru - tamat

Aku bahagia bisa bersama Dito. Dia seperti lelaki yang tidak punya rasa kepedulian pada orang. Namun, saat dekat dan kenal baik dengannya, sifat aslinya tidak seperti covernya saja. Dia sangat peduli, terutama dengan orang-orang yang di sayangi. Beda dengan Alvin. Dia memang peduli dengan orang-orang yang ia sayangi. Namun ia lelaki yang tidak bisa konsisten dengan omongannya. Dia selalu mengobral janji manis dengan setiap wanita yang dia incar-incar. Dia memikat wanita dengan kata-kata manisnya itu. Setelah mendapatkan, dia mengabaikan mereka yang jadi korbannya, termasuk aku. Sekarang aku bisa lebih berhati-hati untuk memilih seseorang untuk menjadi pendampingku. Baik di depan belum tentu baik di dalamnya. Kita perlu menyeleksinya, mencari kebenaran sedetail-detailnya. Alhamdulillah sejak dengan Dito hidupku terasa lebih berwarna. Hidupku terasa lebih hidup. Bagai pelangi yang berwarna warni. ~selesai #Onedayonepost #odopbatch5

Seutas Rasa yang Baru-part 13

"Eh, Fi itu mantan kamu bukan? Ngapain dia masih di sini?" tanya Dito saat kami jalan berdua di sebuah pasar malam. "Iya, itu Alvin. Ngapain dia masih di kota ini?" "Apa mungkin dia pindah ke sini?" "Hah? Pindah ke sini? Ke kota ini? Tempat yang kujadikan pelarian ini?" Tiba-tiba saja Alvin datang padaku. Ia ingin membicarakan sesuatu denganku. "Alvin, kamu ada apa narik tanganku segala dan mmbawaku ke tempat ini?" Alvin membawaku ke pinggir jalan yang berjarak agak  jauh dari pasar malam. "Fi, aku pengen kita balikan." Demi apa dia ngajak aku balikan? batinku. Aku mencoba untuk mencari ide untuk memberinya jawaban yang pas.  "Maaf, Vin. Aku nggak bisa." "Kenapa? Apa kamu udah pacaran sama Dito?" "Udahlah, Vin. Yang lalu biar aja berlalu. Iya, aku udah pacaran sama Dito. Takdir kita gak bisa bersama, Vin. Kamu duluan yang mulai. Mungkin aja kita sekarang masih bareng-bareng kalau...

Seutas Rasa yang Baru-part 12

Kami berjalan mengarah ke toko buku. Sampai di sana, aku segera meraih sebuah novel yang ku incar sejak tadi. Sebuah novel yang menggambarkan kisahku. Bisa dibilang hampir mirip sih. Aku  meluncur ke kasir membayar novel itu dan segera mengajak Dito untuk pulang. "Yuk pulang, udah dapet nih novelnya." "Ini aja? Yaudah yuk." Kami berpisah di parkiran toko buku. Pertemuan kami hari ini sudah mencetak beberapa kisah. Selang beberapa kurun waktu, aku dan Dito semakin akrab. Kami bercengkrama dalam keramaian taman di kampus. "Ternyata lo cewek baik-baik ya, gak kayak yang gue kira selama ini." "Maksud kamu? Emang aku cewek neko-neko apa?" sahutku kesal. "Ya bukannya gitu. Kan banyak nih cewek jaman sekarang yang sok kalem tapi dalemnya enggak." "Heii, nggak semua kali cewek kayak gitu. Tergantung pribadinya gimana, cara orang tuanya mendidik juga." "Wihh, lantunannya masuk banget nih." Dit...

Seutas Rasa yang Baru-part 11

Aku mencerna apa yang dikatakan Dito barusan. Aku sadar bahwa cinta sejati akan pulang ke rumah yang tepat. "Iya. Ada banyak hal yang ku dapat dari cinta. Rasa sayang, luka, benci, bahagia. Dan hal yang berharga adalah pelajaran dari pengalaman cinta." "Dihh, sok puitis banget lo." "Nggak juga, aku ngomong yang sebenernya." "Itu tuh gara-gara lo keseringan baca novel. Jadinya kebawa suasana deh." "Ehh, aku tadi gak jadi beli novel ya? Gara-gara curhat ke kamu nih." tanyaku dengan pasang wajah kusut. "Salah sendiri kok gamon." "Kan gara-gara kamu kepoin juga. Balik yuk ke toko buku tadi. Pliss." "Segitunya ya lo cinta banget sama novel?" "Iya lah, cinta banget. Novel itu udah kayak sahabat buatku. Kemana pun aku pergi, aku selalu bawa novel. Kalo aku lagi sedih, aku selalu baca novel biar hati aku tenang." "Udah kayak lem sama perangko aja gak bisa pisa...

Seutas Rasa yang Baru-part 10

Aku dan Dito berjalan menuju taman dekat toko buku. Di sana, aku mengupas cerita tentang masa laluku 2 tahun lalu. Masa lalu yang bisa ku sebut suram. "Aku cerita mulai dari mana nih?" tanyaku sambil mencari posisi duduk di samping Dito. "Dari Hongkong. Ya dari awal lah."  "Jadi, aku dua tahun lalu putus dari Alvin. Lelaki yang tadi ketemu kita di toko buku itu." "Terus terus?" "Selly itu dulu sahabatku waktu SMA. Tapi, dia malah nusuk aku dari belakang." sahutku sambil tertunduk sedih. "Jadi dia nikung lo?" "Iya, dia nikung aku. Sejak itu aku males sama cowok. Kayaknya sama aja deh." "Eitss, gue kagak ya. Jangan disama-samain sama yang lain. Enak aja." "Hmm, tapi rata-rata kebanyakan kayak gitu semua. Datang, dapatkan, pergi, cari lagi. Hufft menyebalkan." "Itu cuma bayangan lo soal Alvin aja. Sampe-sampe persepsi lo tentang semua cowok itu sama....