Benalu Hidup
Matahari mulai menerbit hingga menembus jendela kamar Vita, seorang gadis SMA yang berasal dari keluarga sederhana. Ia terbangun dari tidurnya dan berjalan gontai menuju kamar mandi. Vitabergegas mengambil handuk. Saat menuju kamar mandi, langkahnya terhentikan oleh suara yang berasal dari televisi ruang tamu rumahnya. Ia mendengar tentang berita kasus korupsi yang dilakukan oleh seorang pejabat negara.
“Ada kasus korupsi lagi ya, Bu? “ tanya Vita pada ibunya yang sedang duduk di depan layar TV.
“Iya, penyelewengan uang oleh seorang pejabat negara.” jawab ibu Vita.
“Padahal mereka itu gajinya juga cukup besar ya bu. Tapi kok malah mereka
masih nggak puas sama gaji mereka ya? “
“Ya begitulah, nak. Manusia yang seperti itu namanya gila harta. Mereka sudah mendapatkan sesuatu tetapi masih merasa kurang.”
“Tapi apakah semua pejabat seperti itu, Bu? “ tanya Vita dengan wajah penasaran.
“Tidak, nak. Tergantung manusianya. Tergantung sifat mereka yang bermacam-macam. Sudahlah, cepat mandi dulu sana, setelah ini ikut ibu ke pasar. “
“Iya, Bu. Sebentar ya, Vita mandi dulu.” jawab Vita sambil bergegas ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Vita segera bersiap-siap untuk pergi dengan ibunya ke pasar. Mereka berboncengan naik motor menuju pasar. Sesampai di pasar, Vita menemani ibunya berbelanja bahan-bahan untuk memasak. Ibu Vita berhenti di penjual sayuran. Di sampingnya ada seorang ibu penjual jajanan pasar.
Sepasang mata Vita melihat seorang anak yang meminta uang kembalian kepada penjual jajanan pasar. Vita sebelumnya sempat melihat ibu itu sudah memberikan uang kembalian kepada anak tersebut. Tetapi anak tersebut masih saja minta uang kembalian.
“Permisi, Bu. Maaf ini ada apa ya, Bu? “tanya Vita penasaran.
“Ini neng, anak ini minta uang kembalian. Padahal sudah saya beri. “ jawab ibu tersebut.
“Benar seperti itu dek? “ tanya Vita kepada anak tersebut.
“Hm... Ibu ini belum memberi aku uang kembalian kak.”
“Tetapi kakak tadi sempat melihat ibu ini memberimu uang. Uang apa dek itu?“
“Su...su...su sudah ya? Aku kira belum kak.” Jawab anak itu dengan menahan malu.
“Dek, lain kali jangan sampai terulang lagi ya. Hal seperti ini itu tidak baik. Jangan berhohong, jangan belajar menjadi seorang koruptor. Ya meskipun ini hal sepele, tetapi lama-kelamaan akan jadi sebuah kebiasaan yang buruk. “
“Iya kak.”
“Maafkan saya ya bu, karena sudah berbohong. “ kata anak itu dengan kepala
menunduk.
“Iya, nak. Tidak apa-apa. “
Vita kembali menuju tempat ibunya membeli sayur. Ia membawakan sebagian barang belanjaan ibunya. Setelah selesai berbelanja, mereka bergegas pulang. Sesampainya di rumah, Vita langsung membawa barang belanjaan ibunya menuju dapur. Ibunya pun segera menyusul menuju dapur.
“Vit, anak yang di pasar tadi kenapa? “ tanya ibu Vita penasaran.
“Itu lho, Bu. Dia sudah diberi uang kembalian tetapi bilang belum diberi.
Padahal Vita tadi sekilas sempat melihat ibu penjual jajan itu sudah memberinya uang kemabalian pada anak itu. “
“Itu bisa diambil hikmahnya nak. Kalau kamu sudah besar nanti jangan sampai menyalahgunakan uang. Apalagi uang orang lain. Itu dosa besar. Kita bahagia di dunia, tetapi sesal di akhirat nanti. Kamu, sebagai generasi muda jangan sampai memelihara kebiasaan kecil yang buruk .” jawab ibu Vita dengan bijak.
“Ada kasus korupsi lagi ya, Bu? “ tanya Vita pada ibunya yang sedang duduk di depan layar TV.
“Iya, penyelewengan uang oleh seorang pejabat negara.” jawab ibu Vita.
“Padahal mereka itu gajinya juga cukup besar ya bu. Tapi kok malah mereka
masih nggak puas sama gaji mereka ya? “
“Ya begitulah, nak. Manusia yang seperti itu namanya gila harta. Mereka sudah mendapatkan sesuatu tetapi masih merasa kurang.”
“Tapi apakah semua pejabat seperti itu, Bu? “ tanya Vita dengan wajah penasaran.
“Tidak, nak. Tergantung manusianya. Tergantung sifat mereka yang bermacam-macam. Sudahlah, cepat mandi dulu sana, setelah ini ikut ibu ke pasar. “
“Iya, Bu. Sebentar ya, Vita mandi dulu.” jawab Vita sambil bergegas ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Vita segera bersiap-siap untuk pergi dengan ibunya ke pasar. Mereka berboncengan naik motor menuju pasar. Sesampai di pasar, Vita menemani ibunya berbelanja bahan-bahan untuk memasak. Ibu Vita berhenti di penjual sayuran. Di sampingnya ada seorang ibu penjual jajanan pasar.
Sepasang mata Vita melihat seorang anak yang meminta uang kembalian kepada penjual jajanan pasar. Vita sebelumnya sempat melihat ibu itu sudah memberikan uang kembalian kepada anak tersebut. Tetapi anak tersebut masih saja minta uang kembalian.
“Permisi, Bu. Maaf ini ada apa ya, Bu? “tanya Vita penasaran.
“Ini neng, anak ini minta uang kembalian. Padahal sudah saya beri. “ jawab ibu tersebut.
“Benar seperti itu dek? “ tanya Vita kepada anak tersebut.
“Hm... Ibu ini belum memberi aku uang kembalian kak.”
“Tetapi kakak tadi sempat melihat ibu ini memberimu uang. Uang apa dek itu?“
“Su...su...su sudah ya? Aku kira belum kak.” Jawab anak itu dengan menahan malu.
“Dek, lain kali jangan sampai terulang lagi ya. Hal seperti ini itu tidak baik. Jangan berhohong, jangan belajar menjadi seorang koruptor. Ya meskipun ini hal sepele, tetapi lama-kelamaan akan jadi sebuah kebiasaan yang buruk. “
“Iya kak.”
“Maafkan saya ya bu, karena sudah berbohong. “ kata anak itu dengan kepala
menunduk.
“Iya, nak. Tidak apa-apa. “
Vita kembali menuju tempat ibunya membeli sayur. Ia membawakan sebagian barang belanjaan ibunya. Setelah selesai berbelanja, mereka bergegas pulang. Sesampainya di rumah, Vita langsung membawa barang belanjaan ibunya menuju dapur. Ibunya pun segera menyusul menuju dapur.
“Vit, anak yang di pasar tadi kenapa? “ tanya ibu Vita penasaran.
“Itu lho, Bu. Dia sudah diberi uang kembalian tetapi bilang belum diberi.
Padahal Vita tadi sekilas sempat melihat ibu penjual jajan itu sudah memberinya uang kemabalian pada anak itu. “
“Itu bisa diambil hikmahnya nak. Kalau kamu sudah besar nanti jangan sampai menyalahgunakan uang. Apalagi uang orang lain. Itu dosa besar. Kita bahagia di dunia, tetapi sesal di akhirat nanti. Kamu, sebagai generasi muda jangan sampai memelihara kebiasaan kecil yang buruk .” jawab ibu Vita dengan bijak.
Wihh mantap pesannya
BalasHapusMasih pemula kak tiann hehe
Hapus