Sekeping Impian

Saat aku kecil,  aku memiliki banyak impian.  Saat kecil,  aku berharap agar impianku itu bisa tersemogakan. Bisa menjadi hal yang nyata,  bukan suatu impian semata. Kemanapun arahku pergi,  aku selalu teringat impian itu. Namun,  aku sempat berpikir bahwa semua impianku itu hanyalah impian. Tidak akan jadi suatu hal yang nyata. Mengapa demikian?  Karena aku hanya sosok makhluk kecil yang banyak kurangnya,  yang belum paham akan lika-liku kehidupan. Bahkan belum mengenal sosok seram manusia. Namun,  tidak semua impian itu terwujud. Tidak pula semua impian itu hanya sebuah impian saja.
Aku mengira bahwa hidup ini sepenuhnya bahagia.  Selalu ada tawa ria.  Tapi apa nyatanya?  Tidak seperti yang kubayangkan saat itu. Hidup tak sesempurna yang kuimpikan,  namun ia juga tak seburuk rupa yang ku bayangkan.  Hidup itu pahit dan manis. Hidup itu hitam putih. Tergantung dengan manusia yang menjalaninya.
Ketika aku mulai beranjak ke masa remaja,  aku mulai perlahan merasakan tantangan hidup yang nyata. Membutuhkan mental yang kuat untuk menghadapinya. Dan perlu berpikir kritis untuk memecahkan masalahnya. Ada beberapa orang yang tegar dan kuat menghadapinya. Ada pula yang rapuh di tengah jalan karena sudah tak lagi mampu berkawan dengan tantangan hidupnya. Aku mulai belajar memahami semesta. Belajar beradaptasi dengan dunia hidup yang penuh drama.  Lika-likunya setiap waktu selalu aku syukuri.  Aku tidak pernah lelah dengan yang dituangkan Tuhan ke dalam ujian hidupku. Setiap langkah selalu ku syukuri. Diberi hidup saja sudah lebih dari cukup bagiku.  Tinggal bagaimana kita mewarnai hidup kita layaknya pelangi. Rumusnya sederhana saja jika ingin bahagia. Tertawalah dengan hal yang bisa membuat hatimu damai.Saat aku kecil,  aku memiliki banyak impian.  

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Nyataku

Tentang Sahabat

Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 2