Si Rasa
Rasa? Iya, si rasa. Yang bergejolak di dada. Yang menguasai pikiran. Yang terbayang-bayang di setiap malam. Awalnya hanya biasa, tanpa ada rasa yang aneh. Rasa ini tumbuh dengan baik seiring berjalannya waktu. Berawal dari sebuah pertemuan, entah itu sengaja ataupun tidak. Beriringan dengan perkenalan, entah tiba-tiba atau sudah terencana. Dan berlanjut dengan sebuah perasaan, entah karena sering bertegur sapa atau tanpa alasan. Semuanya terbingkai dalam kisah asmara antara dua insan yang berpadu hati.
Kasmaran? Kasmaran karena rasa. Tertawa bahagia karena cinta. Rasa itu bernama sayang. Bisa disebut juga nyaman. Terlihat bahagia saat kasmaran. Terasa sempurna karena rasa yang sama. Hingga terjalin ikatan dua manusia yang tak terduga sebelumnya. Awalnya sih hanya berpikir hanya sebatas teman, ternyata lebih dari itu. Sebut saja pacaran. Semua berjalan dengan sempurna pada awalnya. Hitungan hari, minggu, bulan, bahkan ada yang bertahun-tahun. Mereka yang bertahan dalam waktu hari dan minggu mungkin menjalin hubungan tanpa rasa yang nyata. Yang berbulan-bulan pun juga serupa. Bagaimana dengan yang bertahun-tahun? Belum tentu. Bahkan ada yang sudah menjalin pacaran selama bertahun-tahun tetapi tidak mampu bertahan ke jenjang pernikahan.
Tergantung bagaimana manusia yang menjalaninya. Hati manusia itu tidak tertebak. Tuhan Maha membolak-balikkan hati. Tuhan bisa kapan saja mengubah hati dan perasaan hamba-Nya. Yang awalnya ada rasa berubah seolah-olah tidak pernah ada rasa. Dari yang awalnya tidak ada rasa tiba-tiba muncul rasa. Dari yang awalnya benci akhirmya menjadi sayang. Dari yang tadinya sayang akhirnya menjadi benci. Semua sudah direncanakan oleh Tuhan. Kita tidak bisa menebak akhirnya akan seperti apa jika belum menjalaninya. Kita hanya bisa bercerita yang lalu, bukan yang akan datang. Biarlah rasa yang pupus di tengah jalan jadi kenangan. Dan biarlah serpihan kenangan itu menjadi cerminan untuk memotivasi diri kita agar lebih baik ke masa depan.
Komentar
Posting Komentar