Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Seutas Rasa yang Baru-Part 2

Sejak aku putus dari Alvin, rasanya hariku begitu hambar. Layaknya bunga yang mekar tetapi tidak harum aromanya. Aku sering melamun, termenung sendiri, dan membayangkan hariku sebelumnya yang begitu menyenangkan. "Kok ngelamun terus sih. Lagi mikirin apa? Si Alvin lagi?" tanya teman sebangkuku Rachel. "Ehmm, enggak kenapa-kenapa kok, Chel. Kamu udah  lama disitu?" sahutku dengan setengah kaget. "Halah, gak usah ngeles deh. Aku tau kamu masih belum bisa move on dari Alvin. Dari tadi aku merhatiin kamu ngelamun kayak orang susah tau." jawab Rachel dengan ekspresi penasaran. "Ya kamu tau sendiri kan gimana perasaanku. Meskipun aku udah putus sama dia 2 tahun lalu, aku masih belum bisa move on 100% dari kenanganku sama dia. Luka 2 tahun lalu masih membekas, Chel." balasku dengan menitikkan air mata sambil mengupas luka dua tahun yang lalu. "Iya, emang sakit banget. Aku bisa kok ngerasain gimana kalo aku di posisi kamu. Aku ...

Langkah Nyataku

Halo sodarah-sodarah sejagat raya.  Kali ini aku mau sharing sedikit cerita dunia kepenulisanku.  Belum lama sih,  tapi kenangannya banyak banget euy (gamon nih ceritanya) .  Dulu,  waktu aku masih kecil,  hobiku membaca.  Baca novel,  baca komik,  baca cerpen,  baca cerbung,  dan masih banyak lagi yang lain. Berlanjut saat aku SD, aku mulai mengikuti lomba-lomba berbau sastra, yaitu cergam alias cerita bergambar. Awalnya aku membuat cergam karena untuk menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia.  Namun,  entah karena apa guruku mendaftarkanku untuk mengikuti lomba cergam antar sekolah. Dan aku akhirmya mendapat juara 2. Alhamdulillah, diberi kelancaran dan hasil yang memuaskan.  Saat SMP,  aku selalu menulis curhatan keseharianku di sebuah buku kecil.  Kalau jaman dulu sih namanya buku diary . Nggak tau kalau sekarang. Aku menulis isi hatiku di buku itu setiap malam sebelum terlelap di atas bantal. ...

Gara-Gara Jatuh

Tidak terasa , Ulangan Akhir Semester 1 segera tiba. Tapi yang ku  tunggu-tunggu adalah liburan. Aku tidak sabar berlibur. Bahkan aku sudah prepare untuk kebutuhanku saat berlibur. Tapi aku fokus dulu pada yang akan datang ini. Ya. Minggu depan aku akan mengikuti Ulangan Akhir Semester 1. Tentunya, motif belajarku harus ekstra. Persiapanku harus matang. Aku harus lebih giat lagi belajar.  Saat jam pelajaran, sekitar pukul 9, ada panggilan ketua kelas. Pengumumannya tentang UAS 1 minggu depan. Karena media ulangannya menggunaka komputer, ketua kelas dari masing-masing kelas mendata teman-teman sekelasnya yang punya dan memakai laptop sendiri saat ulangan. Aku dengan temanku berecana untuk memakai laptop sendiri saat ulangan. Kemudian, Pak Budi, salah satu guru TIK datang menuju kelasku dan memberi tahu bagi siswa yang memakai laptop sendiri saat ulangan, besok diharapkan membawa laptopnya untuk dicek. "Anak-anak, bagi yang memakai laptop sendiri besok harap dibawa ya...

Nyawa

Akhir-akhir ini banyak tragedi kecelakaan di kotaku. Rata-rata korbannya adalah pengendara motor dan pengemudi truk. Entah, di antara mereka siapa yang salah. Yang jelas, kejadiannya terjadi karena tata tertib yang dilanggar. Peraturan yang terabaikan.  Mereka tahu akan peraturan, tetapi tidak bisa menjalankan. Mereka justru malah menyepelekan. Kebanyakan penyebab kecelakan adalah menyalip kendaraan di depannya dan menerobos rambu-rambu lalu lintas. Memang hal menerobos rambu-rambu lalu lintas terdengar sepele. Mengerikan tapi hihi. Kemarin, aku mendengar berita kecelakaan antara truk dengan sepeda motor. Hmm. Lagi-lagi penyebabnya menyalip truk, lewat sebelah kiri pula. Apalagi itu truk gandeng.  Haduh, sesak rasanya. Tidak melakukan tapi ikut merasakan. Apa sih yang ada dipikiran mereka? Apa mereka tidak eman nyawanya? Apa mereka tidak memikirkan keselamatan mereka?  Rata-rata pengendara motor yang seperti itu adalah anak sekolah. Pelajar SMP dan SMA ke...

Histeris Suntik Difteri

Difteri merupakan infeksi bakteri yang pada umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Penyakit bakteri ini juga mudah menular dan dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapat vaksin difteri. Penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Di kotaku, sudah beberapa sekolah yang siswanya sudah diberi vaksin difteri. Kabarnya, para siswa histeris dengan jarum suntik yang digunakan untuk pemberian vaksin. Teman-temanku di sekolah heboh dengan video-video dari sekolah lain yang merekam siswa-siswa yang histeris karena diberi vaksin. Hal itu membuat teman-temanku ketakutan.  Kebetulan, hari ini ada pemberian vaksin difteri di sekolahku. Petugasnya datang dari puskesmas dekat sekolahku. Aku dan sebagian temanku PMR diberi tugas untuk membantu petugas puskesmas. Urutannya mulai dari kelas 10, kemudian kelas 11, dan berlanjut ke kelas 12.  Aku...

Salah Seragam

Hari libur semester 1 telah usai. Kini saatnya kembali ke rutinitas biasanya. Ya, kembali bersekolah. Kembali bersahabat dengan tugas-tugas dan bekerja sama dengan soal-soal ulangan harian. Berhubung sekolahku di semester 2 ini mulai memberlakukan program fullday school, sekolahku mengubah sedikit peraturan soal seragam.  Berhubung masuk sekolah dalam seminggu menjadi 5 hari, seragam yang biasa dipakai di hari Sabtu menjadi dipakai di hari Kamis. Jadi, hari Rabu memakai seragam kotak-kotak dan hari Kamisnya memakai seragam bluesky (seragam khas SMA ku).  Aku memang anak pelupa, saat hari Kamis, aku justru malah memakai seragam kotak-kotak. Saat sampai di gerbang sekolah, aku baru menyadari kalau aku salah seragam. "Oh, iya aku salah seragam deh kayaknya." ujarku dalam hati Aku segera menuju ke kelas. Sesampai di dalam kelas, salah satu temanku memperhatikan aku dengan saksama. Heran melihat seragam yang kupakai. Begitu juga dengan teman-temanku dari kelas lai...

Seutas Rasa yang Baru -Part 1

Waktu berjalan begitu cepat. Hari terus berganti. Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore berganti malam. Sejak aku berpindah rumah karena pekerjaan orang tuaku yang nomaden, perlahan-lahan aku lupa dengan masa laluku.  Ya, tepatnya dua tahun yang lalu. Aku meninggalkan kota kelahiranku, Kediri. Kota penuh kenangan. Kota yang menyisakan seribu jejak memori masa kecilku. Kota di mana aku dididik hingga aku remaja. Kota itu menyisakan beberapa bagian kejadian yang suram. Dimana aku menahan luka di kota itu. Ya. Ada skenario yang pernah tersisa.  Tepat dua tahun lalu, setelah pengumuman kelulusan SMA kejadian itu terjadi. Aku memergoki Alvin, mantan kekasihku berboncengan dengan Selly, sahabat karibku. Mereka bercanda mesra. Terlihat bahagia. Rasanya pedih sekali. Bagaimana bisa sahabatku seperti ini? Sejak kejadian itu, Mama memberiku nasihat agar tidak terlalu care dengan teman. Sebaik-baik teman dan sedekat-dekatnya kita dengan sahabat, seribu satu ...

Uang Pas

Panas sekali hawanya. Ingin sekali aku segera mendengar bel pulang sekolah. Namun, masih kurang 15 menit lagi. Hawa panas ketambahan rasa dahaga mulai datang. Kantin juga sudah tutup. Air minum juga sudah habis. Rasa lapar dan haus mulai bertemu. Perut berkruyuk-kruyuk. 15 menit berlalu. Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku bergegas merapikan buku-buku dan alat tulis ke dalam tas. Lalu, aku segera bergegas ke depan pintu gerbang. Hari itu, seperti biasanya aku menunggu jemputan Ayah. Terik matahari mulai menyengat.  "Mei, kamu nungguin jemputan?" tanya salah satu temanku, Septi. "Iya, Sep. Aku nunggu Ayahku." jawabku sambil melihat jam sudah pukul 2 siang. "Oh, yaudah kalau gitu aku duluan ya, Mei." "Iya, Sep. Takecare."  Beberapa menit kemudian, Ayahku sampai di depan hadapanku.  "Yah, mampir beli es kelapa ya. Haus banget nih" ucapku. "Iya, beli satu aja. Mama sama Ayah nggak usah." balas Ayahku. "O...

Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 12 (tamat)

Beberapa hari setelah Ayah, Adik tiri, dan Ibu tiriku menghubungiku, mereka jarang berkirim pesan. Mungkin seminggu sekali mereka hanya menanyai kabar dan keadaanku. Sebenarnya, aku ingin sesekali bertemu mereka. Setelah bertahun-tahun tak pernah bertatap muka sama sekali.  Mungkin esok atau lusa. Tuhan sudah mengatur semuanya, umat-Nya hanya menjalankan takdirnya. Manusia hanya bisa berharap, menginginkan, merencanakan, dan menjalankannya. Tuhan yang memilihkan dan menjadikan. Ya, hariku kembali seperti biasanya. Seperti tidak ada apa-apa. Tidak terjadi apa-apa. Diterima saja apa adanya. Jalani hari seperti biasanya. Meskipun aku sudah tahu di mana Papa kandungku berada, namun tetap saja kami sekedar memperkenalkan diri, sebatas menunjukkan jati diri.  Aku juga tidak tahu, apa Papa menyimpan rasa sayang pada anak peempuannya ini. Pada anaknya yang ia tinggal pergi sejak masih kecil, belum bisa berbuat apa-apa. Belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah....

Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 11

Suatu hari, ketika aku pulang sekolah, Mama menyambutku dengan wajah penuh rasa kesedihan dan kecemasan. Mama memelukku erat sambil membasahi pipi tirusnya itu. Aku merasa bersalah telah membuat Mama bersedih dan menangis. Aku menghapus air mata di pipinya itu. Aku juga membalas pelukan Mama yang penuh akan kasih sayangnya itu. Mama akhirnya mau bicara. Ia mengaku bahwa selama ini Mama takut jika aku pergi meninggalkan Mama. Mama takut jika aku pergi ke Bandung dan lebih memilih tinggal bersama Papaku.  "El?" "Iya, Ma?" Ada apa?" "Jangan ninggalin Mama ya, Nak. Mama nggak akan sanggup jika Elia harus pergi ninggalin Mama. Elia adalah anak semata wayang Mama, sayang."  "Maksud Mama apa?" "Mama takut kalau kamu memilih tinggal sama Papa mu setelah kamu tahu Papamu di mana sekarang." Aku terdiam sejenak. Termenung sekejap. "Maa, Elia nggak akan kemana-mana. Elia tetep di sini. Elia tetep di sini nemenin Mama ...

Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 10

Hari-hariku tak lagi seperti biasanya, baik di sekolah maupun di rumah. Entah mengapa, sejak kejadian itu, Mama dan Ayah mendiamkanku. Tak seperti biasanya mereka seperti ini. Mama selalu menyambutku ketika aku pulang sekolah, ia selalu mencium keningku ketika aku berangkat sekolah. Tapi, semenjak aku bercerita padanya, Mama jadi berbeda. Tidak seperti sosok Mama yang ku kenali.  Begitu pun sama halnya dengan Ayah tiriku. Ia juga tidak seperti biasanya, berbeda. Ayahku lah yang setiap hari mengantar jemput aku ke sekolah. Tidak hanya itu, Ayah juga selalu mendampingiku kemanapun aku pergi. Jarang sekali ada sosok Ayah tiri sedemikian baiknya. Apapun yang ku minta, selama itu positif selalu didukung. Namun, entah mengapa Ayah juga tiba-tiba berubah sikap sama seperti Mama. Sama-sama mendiamkan aku. Aku resah, aku bingung harus berbuat apa. Di sisi lain, tiba-tiba Ibu tiriku juga menghubungiku lewat WhatsApp. Semakin tak karuan. Seperti teror yang menghantuiku. Ya, memang mereka...

Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 9

Bagaimanapun juga, aku tetap harus menceritakan hal ini pada Mama. Aku harus bilang apa adanya. Awalnya aku ragu untuk menceritakan ini pada Mama. Tapi mau tidak mau, aku tetap harus cerita.  "Ma?" "Iya, El ada apa?" "Papa barusan chatting Elia, Ma." Mama tersentak, terkejut, kaget. Pikiran santainya berubah jadi kacau. Hatinya bergetar, serasa dipukul keras. Aku menyesal menyuarakan hal itu pada Mama. "Itu bener Papa mu, El?" "Iya, Ma. Papa bilang kalau Papa udah nyariin Elia sejak lama, tapi nggak ketemu-ketemu. Dan akhirnya baru sekarang bisa nemuin Elia. Sebelum Papa, ada juga anak yang chatting Elia dan bilang kalau dia adik tiri Elia, Ma." Mama terdiam mendengar penjelasanku mengenai Papa dan saudara tiriku itu. Mama masih ragu dengan kenyataan ini. Ada rasa takut dalam diri Mama. Ada kegelisahan yang tersimpan dalam diri Mama. Ada perasaan cemas dalam pikiran Mama. Hatinya jadi tergoyah tak karuan. Kemudian langkah...

Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 8

 Mau tidak mau yang namanya kenyataan tidak bisa dipungkiri. Manusia tak bisa menolak garis takdirnya. Menerima apa adanya. Tetap  ada sedikit keraguan di benakku. Rasanya hambar. Yang awalnya pelangi berwarna-warni, tiba-tiba menjadi pudar. Yang tadinya aku adalah seseorang yang ceria, kini menjadi murung.  Akhir-akhir ini, aku selalu memikirkan soal Papaku. Bagaimanakah kehidupan barunya di Bandung sekarang? Apakah Papa bahagia di sana dengan keluarga barunya? Seperti diriku yang kini didampingi seorang Ayah tiri. Lamunan tentang semua itu seketika berhamburan ketika Mama datang mendekatiku.   "El, kamu sedang apa? Mama perhatikan sejak kemarin, kenapa kamu tidak seperti biasanya." tanya Mama dengan penuh kekhawatiran.  "Eh, Mama. Ngga ada apa-apa kok, Ma." sahutku sedikit terkejut.  "Kamu bohong. Kamu lagi ada masalah. Mama bisa membaca dengan jelas raut wajahmu, El."  "Cerita dong sama Mama. Jangan main rahasia-rahasiaan sama Mama....

Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 7

 Aku sempat shock . Karena apa? Aku kaget dengan semua ini. Hatiku tak karuan. Pikiranku kacau kemana-mana. Entah dari mana semua itu berasal. Aku sempat berputus asa. Aku berpikir mengapa Tuhan menggariskan skenario cerita hidupku seperti ini. Mengapa aku seorang anak brokenhome ? Mengapa Mama dan Papa harus berpisah ketika aku masih bayi? Bahkan aku belum pernah bertemu dengannya hingga aku beranjak remaja sekarang. Belum pernah sama sekali. Dan anak lelaki yang berkirim pesan lewat via WhatsApp ku mengaku bahwa ia adik tiriku.  Ini yang membuatku tambah shock lagi. Aku terkejut. Ternyata aku punya adik tiri selama ini? Jadi artinya aku juga punya Ibu tiri? Ya, dan dugaanku adalah benar. Papa kandungku telah menikah dengan wanita lain di Bandung. Di tempat kelahiranku.   Aku bingung. Aku takut. Aku hanyut dalam perasaan. Rasanya seperti hujan lebat  yang tiba-tiba saja datang tanpa lewat mendungnya awan. Mengapa harus aku? Mengapa semua ini terjadi pada...

Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 6

 Hari-hari terus berlalu. Belum pernah aku melihat sosok Ayahku bagaimana. Aku hanya berangan. Hingga suatu ketika, pada akhirnya, Mamaku menikah dengan temannya waktu masa SMA. Aku memanggilnya dengan sebutan om. Aku sempat takut dengan Ayah tiriku ini. Aku banyak mendengar dan melihat berita-berita di televisi tentang ayah tiri yang menyiksa anak tirinya.    Aku takut apabila hal tersebut terjadi denganku. Benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Seiring berjalannya waktu, aku akrab dengan lelaki yang biasa ku panggil om itu.   "Daripada manggil om, mending manggilnya Ayah aja ya, El mulai sekarang." ucap Ayah tiriku.     "Iya, Yah." jawabku dengan malu-malu.      Setiap hari, aku diantar jemput ke sekolah oleh Ayah tiriku. Dan hal ini sudah berjalan sejak aku kelas 5 SD hingga aku kelas 2 SMA sekarang. Suatu ketika, aku mendapat chat WhatsApp dari seorang anak kecil laki-laki. Ia tahu siapa aku, tahu namaku, bahkan ia juga t...

Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 5

 Semenjak Mama pulang, Mama belum bekerja lagi. Akhirnya sebulan kemudian, Mama bekerja dengan temannya SMA berjualan masakan di sebuah ruko. Mama sering menginap di sana bersama temannya itu. Ya, akhirnya aku ke sekolah diantar Paman lagi. Aku sedikit jauh dari Mama. Aku lebih dekat dengan Paman daripada Mama. Kemanapun Paman pergi, aku selalu ikut. Paman sering mengajakku ke pasar malam. Hal yang paling aku sukai di pasar malam adalah membeli gulali dan naik kereta-keretaan. Aku tertawa ketika ingat masa kecilku itu.  "Paman mau pergi kemana?"tanyaku sambil mengikuti Paman. "Ayo ikut Paman ke pasar malam. Kita beli jajanan kesukaanmu." jawab Paman sambil memanasi motornya. "Wahh, pasar malam. Elia ikut ya, Paman." tanyaku sambil kegirangan. "Iya, segeralah bersiap-siap. Paman tunggu di depan."  "Siap, Paman."  Beberapa menit kemudian, aku sudah rapi dengan memakai rok sederhana. Aku berboncengan dengan Paman menuju pasar ...

Layang-layangku

 Namaku Fita. Aku siswa kelas 2 SMP, di salah satu sekolah favorit di kotaku. Suatu ketika, aku melihat anak-anak SD yang berjalan bersama menyusuri jalan depan rumahku. Langkah mereka terhenti ketika melihat iklan layang-layang di tv di warung samping rumahku. Mata mereka menengok ke arah warung. Mereka berbincang-bincang tentang layang-layang. Ya begitulah anak kecil. Mereka terbujuk oleh iklan di tv tersebut. Ada mainan yang menarik perhatian mereka. "Hei, ada layang-layang di tv. Bagus ya!" ucap salah satu anak. "Wah, iya. Banyak juga macam-macam warnanya." jawab salah satu anak. "Bentuknya juga lucu-lucu ya." sahut anak yang lainnya. "Pasti harganya mahal." jawab dengan wajah sedih "Mana mungkin kita bisa membelinya?" ucap salah satu anak dengan raut kecewa. "Ya, uang kita tidak bakal cukup untuk membeli layang-layang itu."  Aku yang daritadi duduk di teras mendengar pembicaraan mereka. Hatiku tergoyah. Kas...

Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 4

  Terharu bahagia melihat Mama kembali pulang. Akhirnya ada sosok yang menemaniku di tiap malamku. Mama bercerita kisahnya di luar negeri. Indahnya pemandangan di sana, musim-musimnya yang berganti-ganti dari waktu ke waktu, dan juga orang-orang di sana.   "Ma, ceritain dong gimana kehidupan di luar negeri." tanyaku penasaran.      "Di luar negeri itu ada 4 musim, El. Ada musim salju, musim panas, musim semi, dan musim gugur."    "Wahhh, enak dong ma kalau lagi musim salju?"     "Nggak enak dek. Musim salju itu dingin. Semua orang di sana memakai sweater tebal saat musim salju. Udah, sekarang ayo cepetan tidur. Udah jam 8, lho. Jangan lupa berdo'a dulu."" jawab Mama sambil berbaring di sampingku.      "Iya, ma. Good night, ma."      "Good night too, sayangg."    Keesokan harinya, tepatnya hari Minggu, Mama mengajakku jalan-jalan ke mall. Mama membelikanku mainan dan juga pakaian...

Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 3

  Tidak terasa, mama sudah LDR denganku selama 5 tahun. Setahun sebelum mama pulang, nenekku dipanggil Tuhan. Tetapi, mamaku tidak diberi tahu. Sebab, takut akan terjadi hal yang tidak diiginkan jika mama mendengar berita duka itu. Aku sangat sedih, mengapa harus nenek yang berpulang terlebih dahulu?  Mama kembali pulang ketika aku kelas 3 SD. Aku ingat, waktu itu aku dengan saudaraku tiba-tiba diajak menuju Surabaya. Awalnya, aku tidak tau dijak kemana. Beberapa jam kemudian, aku tiba di Bandara Djuanda. Aku cukup lama berada duduk di kursi penjemput.  "Paman, kita menunggu siapa?"tanyaku penasaran pada paman yang sedang berjalan ke arahku membawa es krim untukku "Nanti liat saja El siapa yang datang." jawab paman sambil tersenyum geli. Setelah beberapa menit kemudian, datang seorang wanita sambil menarik koper hitam di belakangnya. Siapa dia? Ya, itu adalah mama. Mama telah pulang. Aku berteriak memanggil Mama. Aku berlari menghampiri Mama dan segera meme...