Uang Pas

Panas sekali hawanya. Ingin sekali aku segera mendengar bel pulang sekolah. Namun, masih kurang 15 menit lagi. Hawa panas ketambahan rasa dahaga mulai datang. Kantin juga sudah tutup. Air minum juga sudah habis. Rasa lapar dan haus mulai bertemu. Perut berkruyuk-kruyuk. 15 menit berlalu. Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku bergegas merapikan buku-buku dan alat tulis ke dalam tas. Lalu, aku segera bergegas ke depan pintu gerbang.
Hari itu, seperti biasanya aku menunggu jemputan Ayah. Terik matahari mulai menyengat. 
"Mei, kamu nungguin jemputan?" tanya salah satu temanku, Septi.
"Iya, Sep. Aku nunggu Ayahku." jawabku sambil melihat jam sudah pukul 2 siang.
"Oh, yaudah kalau gitu aku duluan ya, Mei."
"Iya, Sep. Takecare." 
Beberapa menit kemudian, Ayahku sampai di depan hadapanku. 
"Yah, mampir beli es kelapa ya. Haus banget nih" ucapku.
"Iya, beli satu aja. Mama sama Ayah nggak usah." balas Ayahku.
"Okey." sahutku.
Aku memesan satu bungkus es kelapa. 
"Mbah, es kelapanya satu bungkus ya." Ujarku pada Simbah penjual es kelapa.
" Iya, sebentar ya."
Tiba-tiba sesuatu hal yang lucu dan sedikit membuatku malu terjadi. Entah aku saking hausnya atau aku memang kurang fokus.
"Neng, nungguin apalagi? Kan udah dibungkusin es kelapanya?" tanya Simbah.
"Uang kembaliannya, Mbah." sahutku santai.
"Loh, uangnya berapa tadi?"
"Lima ribu, Mbah."
"Uangnya pas, Neng. Es kelapa satu bungkusnya lima ribu." jawab Simbah dengan sedikit menertawaiku.
"Oh, begitu. Saya nggak tau, Mbah. Ya sudah, permisi."
Malu sekali rasanya, aku berdiri dan menanti sesuatu yang sebenarnya tak ada.
~selesai

#Onedayonepost#odopbatch5

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Nyataku

Tentang Sahabat

Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 2