Seutas Rasa yang Baru-Part 2
Sejak aku putus dari Alvin, rasanya hariku begitu hambar. Layaknya bunga yang mekar tetapi tidak harum aromanya. Aku sering melamun, termenung sendiri, dan membayangkan hariku sebelumnya yang begitu menyenangkan.
"Kok ngelamun terus sih. Lagi mikirin apa? Si Alvin lagi?" tanya teman sebangkuku Rachel.
"Ehmm, enggak kenapa-kenapa kok, Chel. Kamu udah lama disitu?" sahutku dengan setengah kaget.
"Halah, gak usah ngeles deh. Aku tau kamu masih belum bisa move on dari Alvin. Dari tadi aku merhatiin kamu ngelamun kayak orang susah tau." jawab Rachel dengan ekspresi penasaran.
"Ya kamu tau sendiri kan gimana perasaanku. Meskipun aku udah putus sama dia 2 tahun lalu, aku masih belum bisa move on 100% dari kenanganku sama dia. Luka 2 tahun lalu masih membekas, Chel." balasku dengan menitikkan air mata sambil mengupas luka dua tahun yang lalu.
"Iya, emang sakit banget. Aku bisa kok ngerasain gimana kalo aku di posisi kamu. Aku sebagai sama-sama wanita juga terluka kalo digituin. Apalagi kalo pelakunya sahabat kita sendiri. Udah bantingin segala macem kalo aku yang digituin." celetuk Rachel kesal.
"Gimana sih caranya biar aku bisa lupa sama luka itu? Susah banget, Chel."
"Ehmm, gimana ya? Nanti deh aku pikirin caranya. Sekarang, tenangin diri kamu dulu. Jangan terlalu stres, nanti depresi bisa-bisa." sahut Rachel dengan jail.
"Gila apa aku depresi? Ngapain juga stres gara-gara orang yang udah naruh luka di hidupku? Bodo banget."
"Siapa tau kan? Udah yuk, mending kita ke kantin aja."
Aku dan Rachel menuju kantin untuk mendinginkan kepala, refreshing dengan melihat keramaian siswa di kantin.
~bersambung
#Onedayonepost #odopbatch5
Komentar
Posting Komentar