Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 11
Suatu hari, ketika aku pulang sekolah, Mama menyambutku dengan wajah penuh rasa kesedihan dan kecemasan. Mama memelukku erat sambil membasahi pipi tirusnya itu. Aku merasa bersalah telah membuat Mama bersedih dan menangis. Aku menghapus air mata di pipinya itu. Aku juga membalas pelukan Mama yang penuh akan kasih sayangnya itu.
Mama akhirnya mau bicara. Ia mengaku bahwa selama ini Mama takut jika aku pergi meninggalkan Mama. Mama takut jika aku pergi ke Bandung dan lebih memilih tinggal bersama Papaku.
"El?"
"Iya, Ma?" Ada apa?"
"Jangan ninggalin Mama ya, Nak. Mama nggak akan sanggup jika Elia harus pergi ninggalin Mama. Elia adalah anak semata wayang Mama, sayang."
"Maksud Mama apa?"
"Mama takut kalau kamu memilih tinggal sama Papa mu setelah kamu tahu Papamu di mana sekarang."
Aku terdiam sejenak. Termenung sekejap.
"Maa, Elia nggak akan kemana-mana. Elia tetep di sini. Elia tetep di sini nemenin Mama sama Ayah. Elia nggak akan pergi ninggalin Mama buat tinggal sama Papa di Bandung. Elia cukup tau aja siapa Papa kandung Elia. Udah itu aja, Ma."
"Makasih Eliaa sayang."
Penasaran kan kelanjutannya gimana lagi?
Pantau blog ku terus yaaaa
***
Emm..gini aja🤔
BalasHapusSetiap pilihan mengandung risiko, pilihan untuk hidup berpisah membawa risiko si anak memilih tinggal dengan salah satunya, maka hati hati dengan pilihan kita
BalasHapus