Seutas Rasa yang Baru-part 10

Aku dan Dito berjalan menuju taman dekat toko buku. Di sana, aku mengupas cerita tentang masa laluku 2 tahun lalu. Masa lalu yang bisa ku sebut suram.

"Aku cerita mulai dari mana nih?" tanyaku sambil mencari posisi duduk di samping Dito.

"Dari Hongkong. Ya dari awal lah." 

"Jadi, aku dua tahun lalu putus dari Alvin. Lelaki yang tadi ketemu kita di toko buku itu."

"Terus terus?"

"Selly itu dulu sahabatku waktu SMA. Tapi, dia malah nusuk aku dari belakang." sahutku sambil tertunduk sedih.

"Jadi dia nikung lo?"

"Iya, dia nikung aku. Sejak itu aku males sama cowok. Kayaknya sama aja deh."

"Eitss, gue kagak ya. Jangan disama-samain sama yang lain. Enak aja."

"Hmm, tapi rata-rata kebanyakan kayak gitu semua. Datang, dapatkan, pergi, cari lagi. Hufft menyebalkan."

"Itu cuma bayangan lo soal Alvin aja. Sampe-sampe persepsi lo tentang semua cowok itu sama."

"Kenapa bisa gitu?"

"Saking patahnya hati lo. Saking cintanya lo sama orang yang belum pasti dia jodoh lo atau bukan." ujar Dito.

Aku merasa sedikit lega setelah mencurahkan unek-unekku tentang Alvin. Perlahan-lahan aku bisa benar-benar megikhlaskan kepergian Alvin yang merajut kisah baru dengan sahabat baikku, Selly. 

"Patah hati terkadang sesakit itu. Gak semua orang yang kita sayang bisa kita milikin. Gak selamanya yang mendung itu hujan. Dan gak selamanya yang basah itu karena tangisan air mata seseorang, tapi bisa aja hatinya. Yang sudah terluka namun lukanya tak terlihat." ucap Dito padaku dengan wajah sedikit serius.


~bersambung

#Onedayonepost #odopbatch5

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Nyataku

Tentang Sahabat

Setelah Gelap Pasti Ada Cahaya Part 2